dari sudut pandang manapun diri memberi anggap
tidak ada bidik kemunafikan dikau melangkah dalam semampai
rambutmu yg panjang hitam gelang gelang
seakan menjerat leher para lelaki dalam hembus sesaknya nafas
alismu yg tertata seakan semut hitam berbaris yg beranjak sesaat terusik
sungguh bagai busur panah menghunjam lubuk ketika mata melesatkan tatapnya
sangat terukur mancung hidung mengarahkan pada jiwa-jiwa gersang mereka
Adinda…
bibirmu yg indah hanya bisa diselaksakan lelehan madu yg hendak tumpah
sejenak disanggah dagu yg bergelayut manja
bahkan lembayung ungu menjadi pucat tak merona
disapu rona sipu pipimu seiring diselipkannya setangkai pada sela telinga
berhenti sampai disitu
jangan tersenyum
karna aku tak ingin tersiksa pada malam malamku
usah dikau bercanda dengan lentikmu
karena aku tak ingin lupa pada deritaanya
jangan menatapku dengan sejuta tanya yg manja
karna kefakiran jiwaku tetap dikau jawabnya
jangan memohon…, sungguh aku meminta
karna aku sudah sangat telanjang adanya
Adinda…
sudahlah
dikau memang sangat wanita
dikau sungguh mempesona
karna bisa saja aku menjadi sangatlah pria
adinda
entahlah
dari rusuk seperti apa dikau dijadikan ada
aku cemburu
bahkan sangatlah
jika…. sampai bukan ‘aku’ jawabnya

la.... semoga tak berhenti melukiskanya.....
dan jadi jawaban