“Entah apa nama gulana ini jiwaku ia selalu merangkul namun tak terjamah”, cinta tak pernah bersandar pada keraguan yang menjadi penyebab harap tiada kunjung usai karna sayang bukti teratas akan keberadaannya bahkan bukti keberadaan diri sebagai buah cinta.
Kesenangan bukanlah senang-senang, dikau harus puas dalam menyenangiku bukannya puas karna aku senangiku. meracau diri tanpa mengambil jeda n’tuk bernafas seakan pintu ucap terbuka dari sekian lama terkunci.
Duhai dinda sayang tanyakan pada hatimu apakah aku pemilik tetap pada ruang hampa dihati, masih pantaskah dikau mencurigaiku berhasrat pada segala bentuk yang besembunyi dibalik pakaian malammu sedang jauh pada lubuk hatimu dengan batas berijab ijab yang menembus kulit, daging dan tulang aku sudah memilikinya bahkan bersarang didalamnya.
Jangan…..! Jangan sekali kekasih
Tuhan teramat menyayangiku semenjak aku engkau persandingkan denganNYA dihatimu,
semenjak nikmat kerinduanmu tentangku terlantun beriring tersebut juga atas nama kasih dan sayangNYA, melalui tanganku kasih dan sayangNYA
teruntuk padamu, hanya keihklasan hati yg sanggup menjadi singgasana kebesaranNYA sedang keluasan jagad terlalu kerdil bagi kemaha segalaanNYA.
Jika pada hatimu ada Tuhan lalu racun dari sihir dukun seperti apa yang ‘kan sanggup memalingkan kau dariku.
karena “Bagi hamba-hambaku yang ikhlas ia takkan bisa menggodanya sebagaimana yang Tuhan sabdakan, tak akan pernah sanggup mendengar bersit hati kita kecuali sang hunian.
Sekarang usah kau dengar pada setiap ucapku yang teruntuk buatmu bukalah telinga hatimu lalu tanyakan padanya apakah aku menjadi penyandang dana terbesar pada bahagianya hatimu”.
Ditatap kekasihnya sampai bersit terdalam jiwanya hingga menembus cadar cadar yang tersembunyi yang jadikan kerancuan pada kelopak jiwa kekasih,
Dindaku sayang, aku mengenalmu lebih dekat dari jari-jarimu karna setiap senandung
pada relung hati pasti akan terdengar oleh sang hunian
bukan sekedar mukjizat bagi telinga raja sulaiman mampu mendengar celoteh segala mahluk
namun karena pada hati setiap mahluk mencintai segala kebijakannya maka tiada lagi rahasia pada senandung hati mahluk pun yg lepas dari pendengaran sang raja nan jua sekaligus nabi itu
Sulaiman hanya salah satu selendang kemahakuasaanNYA yang bisa menemukan cermin kasih sayangnya, hingga pada akhirnya ditambahkan kemampuan oleh sang Khalik untuk mampu berbahasa segala mahluk melalui mukzizatnya.
Bagiku dikau adalah penjaga hati, jika hatiku adalah singgasana Tuhan jaga singgasana itu dari sampah dan segala jenis noda yang mampu mengurangi kebetahan Sang Maha Indah untuk tetap tinggal didalamnya, duhai kekasihku…
Tak akan ada pada setiap tangis mengiris milikku yang mendapatkan ijinNYA untuk dijadikan sebuah doa jika pada keseharianmu bersamaNYA didalam semayam hatiku tak seiring dengan tangisanku
terlebih jika bisikanmu kepadanya pada relung hatiku berisi tangisan penderitaanmu olehku
aku akan menjadi kafir ketika mengingatmu lebih banyak dari yg seharusnya mengingat Tuhan
jika pada keseharian aku hanya bercerita tentang cara memujamu, makan aku mengingatmu non, ketika berjalan seakan disampingmu, mau tidur seolah bersamamu, lantas mengapa tak sekalian saja selamanya aku makan berjalan-jalan dan tidur bersamamu.

Filosofimu selalu indah.... :)