Secarik kertas ditelaga
Isyaratkan akan gulana
Kutarik nafas hingga batas tak hingga,
Peristirahatan cinta entah dimana
Berlian batu pantulkan cahaya segala Warsa
Murni seketika walau lama teperangkap rawa
Kalian tau kapan berampunnya segala dosa
Yakni ketika kau temukan siapa pelengkapnya jiwa
Senja sampai dibatas Cakrawala
Jingga terhampar bagai permadani Raya
Langkah gontai dibilas kata entahlah
Hingga terkapar landai mengasihani Jiwa
Sibak kesan hati pada goresan tinta
Bila kasih terasa redup kata untuk ditela'ah
Banyak insan mati karna gagal akan cinta
Jika masih merasa hidup maka bercintalah
Banyak insan mati karna gagal akan cinta
Jika masih merasa hidup maka bercintalah
dari jingga ke jingga
jiwa terpenjara oleh ucapan, “apa hendak dikata…”
andai bahagia tak memiliki kreteria kenikmatan lain kecuali cinta
andai selingkuh bukanlah jawaban atas pernikahan tak sejiwa
andai malam malam lebih indah mengisi penat jiwa
andai kekasih bukanlah pelengkap sempurnanya sandiwara
dari fajar ke senja
kata kata laksana titah berbalut mantra hilang sia siadari senja ke fajar berikutnya
sakralnya cinta digilas tahta berpermata
dari senja kesenja…serasa tak ingin hidup sampai usia senja
dari senja kesenja berikutnya
hanya itu oleh oleh dari jiwa
